[v]

[v] Falkner Paint Template

FideL

FideL FideL

Seiho

Seiho Seiho

Dr.Beks

Dr.Beks Falkner Paint Template
.:.
.:.

.:.


Seiho

Posted by Havedz Nur Duha Panengke on Selasa, 06 April 2010 , under | komentar (0)



Seiho adalah salah satu group musik (band) yang saya bentuk,.. Seiho sendri lahir pada awal februari tepatnya di tanggal 7 februari 2007. Seiho sendiri memiliki arti barat yang di ambil dari

bahasa jepang yang memiliki huruf jepang seperti ini (清峰).
Seiho memiliki 4 anggota yang memainkan instrument sesuai dengan kemampuannya,. meraka adalah, Satria K Yudha - memainkan instrument bass (bassist) Egie Kristianto - memainkan insturment guitar (guitarist), Havedz Nur Duha - memainkan insturment drum (drummer), Ogie Krisdianto - sebagai Vocalist.

Seiho telah menghasilkan beberapa karya, walaupun karya itu di rekam bukan dengan cara tracking, melainkan dengan cara live performance (proses rekam pada saat Latihan).

Saat ini Seiho sedang tidak bekerja (vacum) karena kesibukan dari masing-masing personelnya.

untuk mendengarkan lagu-lagu dari Seiho, silahkan Klik disini



Ibn Sina - (Aviciena)

Posted by Havedz Nur Duha Panengke on Sabtu, 27 Maret 2010 , under | komentar (0)



Photobucket

Syeikhur Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.

Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan demikian;

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin memanfaatkannya... Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu.” Ibnu Sina menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.

Kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, raja dinasti Samani, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Muk, penguasa Hamedan, tak menghalangi beliau untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.

Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang dibeni nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian beliau menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.

Di antara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, kitab al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran dikenal sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 masehi, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Ibnu juga memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Ibnu Sina memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.

Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah bab karya tulis ini, Ibnu Sina membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan, “Kemungkinan gunung tercipta karena dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini adalah penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”

Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya, seseorang baru diakui sebagai ilmuan, jika ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari pemikiran Aristoteles, Ibnu Sina mengaku bahwa beliau membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara sempurna setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi, filosof muslim sebelumnya.

Dalam filsafat, kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama adalah periode ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini, Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah pemikiran Aristoteles. Periode kedua adalah periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan seperti yang dikatakannya sendiri cenderung kepada pemikiran iluminasi.

Berkat telaah dan studi filsafat yang dilakukan para filosof sebelumnya semisal Al-Kindi dan Farabi, Ibnu Sina berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukan Ibnu Sina adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tak terjawab sebelumnya.

Pengaruh pemikiran filsafat Ibnu Sina seperti karya pemikiran dan telaahnya di bidang kedokteran tidak hanya tertuju pada dunia Islam tetapi juga merambah Eropa. Albertos Magnus, ilmuan asal Jerman dari aliran Dominique yang hidup antara tahun 1200-1280 Masehi adalah orang Eropa pertama yang menulis penjelasan lengkap tentang filsafat Aristoteles. Ia dikenal sebagai perintis utama pemikiran Aristoteles Kristen. Dia lah yang mengawinkan dunia Kristen dengan pemikiran Aristoteles. Dia mengenal pandangan dan pemikiran filosof besar Yunani itu dari buku-buku Ibnu Sina. Filsafat metafisika Ibnu Sina adalah ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Sepanjang hayatnya, Ibnu Sina banyak menu lis berbagai macam karya yang berkaitan dengan bidang yang ditekuninya. Jumlahnya mencapai 250 karya, baik dalam bentuk buku maupun risalah.


Karya-karyanya itu antara lain :

Qanun fi Thib


Kitab ini ditulis ketika ia menuntut ilmu di Rayy dan Hamadan. Qanun fi Thib yang dalam bahasa Inggris telah diterjemahkan dengan nama The Canon of Medicine, berisi tentang berbagai macam cara penyembuhan dan obat-obatan. Didalamnya tertulis jutaan item tentang pengobatan dan oabt-obatan. Karena itu, ada pula yang menamakan kitabnya ini sebagai Ensiklopedia Pengobatan.


Al-Magest

Buku ini berkaitan dengan bidang astronomi. Diantara isinya, bantahan terhadap pandangan Euclides, serta meragukan pandangan Aristoteles yang menyamakan bintang-bintang tak bergerak. Menurutnya, bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada dalam satu globe.


Asy-Syifa

Dalam buku Asy-Syifa ini, Ibnu Sina juga menuliskan tentang masalah penyakit dan pengobatan sekaligus obat yang dibutuhkan berkaitan dengan penyakit bersangkutan. Sama seperti Qanun fi Thib, kitab Asy-Syifa ini juga dikenal dalam dunia kedokteran sebagai Ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Kitab ini terdiri dari 18 jilid.

De Conglutineation Lagibum


Kitab ini ditulis dalam bahasa latin, yang membahas tentang masalah penciptaan alam. Diantaranya tentang asal nama gunung. Menurutnya, kemungkinan gunung tercipta karena dua sebab. Pertama, menggelembungnya kulit luar bumi lantaran goncangan hebat gempa. Dan kedua, karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses itu mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi


Post

Bahasa Tubuh Saat Pria Jatuh Cinta

Posted by Havedz Nur Duha Panengke on , under | komentar (0)



Apakah si dia sekedar menyukai atau sangat tertarik dengan Anda ? Hal itu bisa diketahui dari bahasa tubuhnya. Mengetahui arti bahasa tubuh pria bisa mempermudah Anda berkomunikasi dengannya. Berikut arti dari empat bahasa tubuh pria.

1. Dia memandang mata Anda lebih dari dua kali

Jika ada seorang pria terlihat memandangi mata Anda lebih dari dua kali, tandanya ia memeriksa kondisi di sekeliling apakah Anda sendirian, bersama teman, atau bersama pasangan. Lalu, jika ia melihat Anda lebih dari tiga kali, tandanya ia sangat penasaran, dan ingin mendekati Anda. Menurut Janine Driver penulis buku "You Say More Than You Think, meskipun pria tidak mendekati tetapi jika ia memandang wanita berkali-kali, tandanya ia sangat tertarik.

2. Mendekatkan wajahnya

Ketika seorang pria tertarik pada seorang wanita, ia akan memasuki ruang pribadi. Yaitu dengan meletakkan wajahnya dekat dengan wajah Anda saat berbicara. Menurut Driver, pria akan mendekatkan wajahnya pada wanita incaran lebih dari biasanya, jika ingin menjadi orang yang spesial.

3. Berbicara pelan dan lembut

“Saat tertarik pada seseorang, Anda akan berbicara 25 persen lebih pelan dan lembut dibandingkan saat berbicara normal," kata Greg Hartley, lulusan U.S. Army Interrogation School dan penulis "Date Decoder",seperti VIVAnews kutip dari Shine. Jadi, jika ia berbicara seperti menggantung pada setiap kata, sebenarnya ia ingin melihat reaksi dan mendengar cerita Anda.

4. Berusaha menyentuh

Pria yang berusaha menyentuh dan selalu berusaha untuk berdekatan merupakan tanda-tanda ia sedang jatuh cinta. Ia akan berusaha menyentuh tanpa disadari. Hal itu menggambarkan keinginannya untuk melindungi Anda melalui sentuhannya.

Cinta Dunia (Page 2)

Posted by Havedz Nur Duha Panengke on Senin, 15 Maret 2010 , under | komentar (0)



Orang yang mengenal dirinya sendiri, akan mengenal Tuhannya. Siapa yang mengenal perhiasan dunia dan mengenal akhirat, maka la akan menyaksikan dengan cahaya jiwa, betapa kehidupan dunia itu bertentangan dengan kehidupan akhirat. Salah satunya adalah, bahwa seseorang tidak akan mencapai kebahagiaan di akhirat, kecuali jika menghadap Allah swt. dengan ma’rifat dan mahabbah kepada-Nya. Dan mahabbah tidak akan bisa dicapai, kecuali dengan melanggengkan dzikir.
Demikian pula ma’rifat kepada-Nya tidak akan teraih, kecuali dengan terus “mencari” dan “berpikir”. Dan keduanya tidak dapat dilakukan, kecuali menghindarkan diri dari kesibukan duniawi. Sebab, cinta dan ma’rifat kepada Allah tidak akan pernah bersandar di hati, kecuali bila hati itu sendiri terlepas dari rasa cinta kepada selain Allah swt. Dan teosofi seperti ini hanya dapat dihampiri oleh orang-orang yang tergolong ahli bashirah. Jika Anda memiliki matahati (bashirah), Anda adalah ahli rasa (dzauq) dan musyahadah. Bila Anda tidak mungkin seperti mereka, cukuplah Anda menjadi kelompok taqlid dan ahli iman saja. Namun perhatikan peringatan Allah dalam Al-Qur’an dan AsSunnah.
Allah swt. berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna...” (Q.s. Hud:15).

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat...” (Q.s. An-Nahl: 107).

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia...” (Q.s. An-Nazi’at: 37-8).

Sepertiga dari Al-Qur’an, ayat-ayatnya mengecam dunia dan para pengabdi dunia.
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu dilaknat, berikut segenap isinya juga dilaknat, kecuali jika disertai untuk tujuan kepada Allah swt.” (Al-Hadits).

“Dunia adalah manisan hijau. Dan Allah mengangkat kamu sebagai khalifah di atasnya, dan Dia menyaksikan bagaimana cara kamu bekerja.” (Al-Hadits).

“Sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu makhluk yang paling dibenci-Nya, melebihi dunia. Semenjak diciptakan, Dia tidak pernah memandangnya.” (Al-Hadits).

Sabdanya pula, “Barangsiapa di waktu paginya menjadikan dunia sebagai cita-cita utama, dia tidak akan mendapatkan apa pun dari Allah swt. Justru Dia akan senantiasa menyiksa hatinya dengan empat perkara: Kesusahan yang tidak ada putus-putusnya, kesibukan yang tiada akhirnya, kemiskinan yang tiada mencapai kekayaannya, dan angan-angan yang tidak akan pernah sampai tujuannya selama-lamanya. “
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, maukah kamu bila kuperlihatkan dunia secara keseluruhan?’Aku menjawab, `Ya.’

Lalu beliau memegang tanganku dan menjulurkannya ke tempat sampah yang di dalamnya terdapat tengkorak kepala manusia, kotoran, kain lusuh dan tulang-belulang. Kemudian beliau bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, kepala-kepala (tengkorak) ini adalah ketamakan dan angan-angan manusia, kini ia telah menjadi tulang tanpa kulit dan akan menjadi debu. Sedangkan kotoran ini adalah aneka makanan yang dimakan dan hasil usaha manusia, yang kemudian mereka buang dari perutnya, sehingga mereka saling menjaganya. Dan kain lusuh ini adalah pakaian mereka yang dicerai-beraikan oleh hembusan angin. Sedang tulang-belulang ini adalah tulang-belulang binatang yang mereka cari dan pelihara sampai ke berbagai penjuru. Barangsiapa menangisi dunia, maka menangislah!”

Dalam hadits lain beliau bersabda, “Kelak pada hari Kiamat akan datang suatu kaum yang amal perbuatan mereka seperti Gunung Tihamah; tetapi mereka digiring ke neraka.”Para sahabat berkata, “Termasuk orang yang mengerjakan salat wahai Rasulullah?” Nabi saw. menjawab, “Ya, mereka salat, puasa dan bangun di sebagian tengah malam. Dan bila ditawarkan nilai dunia, maka mereka sama-sama bergegas merebutnya.”
Nabi Isa as. menegaskan, “Cinta pada dunia dan juga pada akhirat tidak bisa menempati hati seorang Mukmin, seperti air dan api tidak bisa berada pada satu tempat.”

Rasulullah saw bersabda, “Waspadalah terhadap dunia, karena lebih dini daripada Malaikat Harut dan Marut.”
Nabi Isa as. bersabda, “Wahai Hawariyun, relakanlah dirimu mendekati dunia disertai keselamatan agama, sebagaimana penghuni dunia rela mendekati agama disertai keselamatan dunia.”
Diriwayatkan, bahwa Isa as. diperlihatkan substansi dunia dengan gambaran wanita tua yang buruk rupa, walaupun diberi perhiasan macam-macam. Isa as. berkata, “Berapa kali engkau menikah?”Wanita tua itu menjawab, `Aku tidak bisa menghitung suami-suamiku.” Isa as. bertanya lag’, “Mereka menceraikan kamu atau kamu ditinggal mati mereka?” Wanita itu berkata, “Kubunuh semuanya.” Isa as. berkata, “Sungguh mengejutkan sekali, suami-suamimu yang terakhir, mengapa mereka tidak mengambil pelajaran pada suami-suami terdahulu?”

Perlu Anda ketahui, orang yang menyangka bahwa memakai pakaian dunia pada badannya, sementara hatinya tetap sunyi dari dunia, berarti orang tersebut tertipu. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang cinta pada dunia ibarat orang yang berjalan di atas air. Dapatkah orang berjalan di atas air, kakinya tidak basah?” (Al-Hadits).

Suatu ketika Ali bin Abi Thalib r.a. berkirim surat kepada Salman Al-Farisi r.a, “Dunia itu laksana ular, halus disentuh, tetapi bisanya membahayakan. Berpalinglah dari dunia yang mengagumkan diri Anda, karena Anda bersahabat sedikit dengannya; letakkan segala kegelisahan dunia, karena Anda yakin akan berpisah dengannya; jadilah diri Anda sebagai orang yang senang dengan apa adanya, karena lebih waspada dari bahayanya; sebab, pemilik dunia ketika merasa tentram la akan dikejutkan oleh sesuatu yang dibencinya.”
Nabi Isa as. berkata, “Dunia ibarat orang yang minum air laut, semakin banyak semakin terasa haus, sehingga membinasakan diri sendiri.” Ketahuilah, orang yang merasa tentram pada dunia dengan keyakinannya, bahwa la telah lari dari dunia, itu tergolong orang yang sombong.

Dunia, bahkan, seperti rumah yang disiapkan pemiliknya, dihiasi untuk menerima tamu-tamu yang datang. Kemudian la memasuki salah satu rumahnya, lalu disodorkan mangkuk emas berisi dupa yang harum, agar la mencium baunya.Dupa itu dibiarkan untuk orang-orang yang menemuinya, tetapi tidak untuk dimiliki. Tetapi, pikirannya bodoh, orang tersebut menyangka dupa dan mangkuk emas itu diberikan kepadanya. Ketika hatinya mulai berhasrat la menuntut, lalu la gelisah dan rakus. Kalau saja la cerdas dan mengetahui pasti la cukup mengambil manfaatnya, dan berterima kasih, lalu mengembalikannya dengan hati yang bersih dan dada yang lapang.

Begitu pula Sunnatullah di dunia. Dunia adalah rumah jamuan bagi orang yang lewat. Bahkan rumah para penghuni, agar orang-orang yang lewat memanfaatkan mengambil bekal perjalanan, seperti pemanfaatan barang pinjaman. Kemudian dipindahkan kepada orang berikutnya dengan hati yang lapang tanpa ada ketergantungan hati terhadap apa yang beralih dari tangannya. Bukannya seperti orang yang menyesal ketika dunianya berakhir ke tangan orang lain.

Original Post

Cinta Dunia (page 1)

Posted by Havedz Nur Duha Panengke on , under | komentar (0)



Imam Al-Ghazali
Cinta dunia adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidaklah sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahta hanyalah bagian terkecil dari kehidupan dunia yang amat luas itu. Kehidupan dunia adalah kondisi obyektif Anda sebelum meninggalkan dunia. Sedangkan akhirat adalah kondisi obyektif

Anda setelah meninggal. Apa pun isi kehidupan yang Anda hadapi sebelum meninggal, maka itu adalah kehidupan dunia, kecuali ilmu pengetahuan, ma’rifat dan kebebasan. Kehidupan duniawi itu amat variatif.

Apa yang ada setelah kematian, juga merupakan wahana kenikmatan, bagi yang memiliki matahati. Tetapi wahana setelah meninggal itu bukanlah dunia, walaupun muncul di dunia.
Bagian-bagian duniawi tersebut saling terkait satu sama lain, berkaitan pula dengan upaya perbaikan kerja Anda, yang kembali pada harta-benda yang ada dan bagian Anda di dalamnya, serta kesibukan Anda untuk memperbaikinya.

Yang berupa harta-benda (materi) adalah bumi beserta isinya. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya...” (Q.s. Al-Kahfi: 7).


Kepentingan manusia terhadap bumi itu pun bervariasi, bergantung pada sisi bumi itu sendiri. Tanahnya secara umum dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat tinggal dan kebun. Tetumbuhannya sebagai obat dan makanan. Barang tambangnya sebagai sumber devisa, bahan-bahan produksi dan berbagai peralatan. Sedangkan binatang-binatang difungsikan sebagai alat kendaraan dan bahan makanan. Adapun manusia itu sendiri berperan sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi dengan melakukan berbagai kebajikan dan mengembangkan keturunan. Semua itu telah terhimpun dalam firman Allah swt.:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...” (Q.s. Ali Imran: 14).


Sedangkan bagian duniawi Anda di muka bumi, telah diungkapkan Al-Qur’an melalui kata “hawa nafsu”.
Allah swt. berfirman: “... dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya ...” (Q.s. An-Nazi’at: 40).
Kemudian sebagai rincian terhadap ayat tersebut, Allah swt. berfirman pula:
“... Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaianan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak...” (Q.s. Al.-Hadid: 20).


Di balik semua itu berbagai ancaman terselubung terhadap batin, berupa kedengkian, kesombongan, riya’, hipokrit, berfoya-foya, cinta dunia dan gila sanjungan. Semua itu adalah dunia batin. Sementara kekayaan fisik adalah dunia lahiriah. Kesibukan Anda untuk memakmurkan dan mengolah dunia melalui industri dan profesi, yang membuat manusia sibuk sehingga lupa diri, lupa prinsip dan kehilangan makna hidup, semata karena kelelapan mereka terhadap kesibukan duniawi itu.

Kesibukan itu muncul akibat dua kaitan: ketergantungan hati karena cinta dunianya, dan ketergantungan fisik dengan sibuk mengolahnya.
Itulah hakikat dunia, yang -apabila -mencintainya merupakan pangkal dari segala dosa. Padahal dunia diciptakan semata sebagai bekal menuju akhirat. Hanya saja gemerlap dunia itu seringkali membuat orang tersesat sehingga lupa pada tujuan hidupnya sebagai musafir menuju alam akhir. Ibarat pemula yang menunaikan ibadat haji, dia pasti disibukkan dengan segala persiapan dan perbekalan maupun perlengkapan kendaraannya, sehingga akhirnya dia pun tertinggal oleh rombongannya dan gagal menunaikan ibadat haji, malah dimangsa oleh binatang buas di padang pasir.

Itulah dunia yang tercela dan yang menghancurkan. Padahal substansinya adalah ladang akhirat. Kehidupan dunia merupakan salah satu fase perjalanan menuju Allah swt. Ia ibarat perumahan yang dibangun di tengah jalan. Di situ segala bekal perjalanan dipersiapkan dan disimpan. Siapa pun yang mempersiapkan dan mengambil bekal perjalanannya di situ sekadar kebutuhan, seperti bekal makanan, pakaian, menikah dan kebutuhan lain, maka la benar-benar menanam tanaman dan akan dipetiknya kelak di akhirat. Tetapi, barangsiapa melebihi batas dalam mengambil bekal dan terlena olehnya, maka dia bakal binasa.

Hidup di dunia, ibarat suatu kaum yang mengendarai sebuah kapal. Di suatu pulau, kapal itu berlabuh. Para awak kapal menyuruh penumpang turun untuk melihat-lihat kondisi alam di pulau tersebut dan sekaligus memenuhi hajat yang diperlukan. Akan tetapi, mereka diliputi kekhawatiran tertinggal oleh kapal dan tempatnya diambil alih orang lain. Maka, reaksi mereka pun berbeda-beda satu sama lain. Ada yang segera turun dan memenuhi hajat kebutuhannya, lalu segera kembali ke kapal sehingga mendapatkan tempat yang luas dan masih kosong. Ada yang terlena menyaksikan panorama pulau itu, sehingga terlambat naik ke kapal dan akibatnya dia pun tidak mendapatkan tempat yang cukup luas untuk dirinya berikut buah tangan yang dibawanya. Karenanya, buah tangannya itu terpaksa dipikul di atas bahunya hingga ke tempat tujuan.
Dan bahkan ada yang amat terlena hingga masuk ke dalam belantara yang berpanorama sangat indah, terpesona oleh keindahan bunga-bunga, tidak ingat ancaman binatang buas, keganasan alam, dan sebagainya. Ketika tiba di pantai, dia mendapatkan bahwa dirinya ternyata tertinggal seorang diri di tepi pantai. Selang beberapa saat kemudian datanglah binatang buas dan binatang berbisa yang siap memangsanya.

Demikianlah ilustrasi kehidupan di alam dunia bila dikaitkan dengan kehidupan akhirat. Cobalah kita renungkan!

Original Post

*KEHANCURAN ISRAEL di TAHUN 2022*

Posted by Havedz Nur Duha Panengke on , under | komentar (0)



Dalam buku ini penulis membicarakan dua perkara utama. Pada bagian  pertama penulis menguraikan beberpa ayat Alquran surat Al Isra' dengan  metode tafsir analitik. Dari sini disimpulkan bahwa dua janji Allah  kepada Bani Israil yang diturunkan dalam kitab Taurat dan Al quran baru  terlaksana sekali.Berarti masih akan terjadi sekali lagi, lalu kapan  itu terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini penulis menggunakan sebuah  pendekatan baru yang dinamakan "ta'wil matematik" dengan angka 19  sebagai dasarnya. Dengan angka 19 itu penulis mengalikan jumlah huruf,  kalimat atau angka tertentu yang diperoleh dari ayat Quran. Hasilnya  adalah keajaiban dan menunjukkan kemukjizatan Al-Quran karena disitu  diperolehlah angka 2022 sebagai tahun diprediksikannya israil Hancur. 


BAGIAN PERTAMA :  

Tafsir, Ayat-ayat Surat Al Isra tentang Kehancuran Israel.  
Peristiwa isra' mi'raj terjadi satu tahun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah. Pada saat itu peristiwa tentang kejatuhan bangsa Yahudi sudah berlalu, kurang lebih selama 500 tahun. Rentang waktu yang cukup lama. Setelah peristiwa isra' mi'raj tersebutlah permulaan surat Al isra' atau yang juga disebut Bani Israil diturunkan. Yang menarik, peristiwa isra' mi'raj Rosul hanya disebut dalam satu ayat saja dalam surat Bani Israil tersebut yaitu Ayat ke 1 (Buka QS Al Isra : 1).
Setelah itu mulai Ayat 2 pembicaraan dilanjutkan tentang :  
"Dan telah kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami telah menjadikannya sebagai petunjuk untuk Bani Israil,(dan diwasiatkan kepada mereka) agar kamu janganlah menjadikan wakil (penolong untuk tempat menyerahkan segala urusan) dari selain-Ku?" (QS Al Isra :2)
dilanjutkan QS Al Isra : 4-6  Muncul pertanyaan, apakah hubungan Musa, Bani Israil, dan peristiwa Isra' ?  
Dalam Kitab Taurat, Tuhan telah memutuskan bahwa bani Israil akan memasuki bumi yang diberkati (Palestina). Bahkan disana mereka akan mendirikan pemerintahan. Tetapi kemudian mereka membuat kerusakan besar sehingga menyebabkan Allah menghukum mereka dengan cara mengirim hamba2-Nya yang tangguh. Setelah kerajaan mereka binasa, mereka diusir dan dicerai beraikan.Perkara ini juga telah dikabarkan Allah dalam Qs Al maidah :21
Wahai kaumku masuklah kedalam bumi (Palestina) yang disucikan, yang Allah telah tetapkan buat kamu.
Namun kaum Bani israil kembali membuat kerusakan. Ini dimulai sejak kedua nabi Allah Dawud dan Sulaiman wafat. Orang2 Bani Israil terpecah menjadi 2 bagian yang saling membuat kemungkaran.
Nabi Sulaiman sendiri wafat tahun 935 SM. Setelah itu sebanyak 12 suku bangsa Yahudi membelot. Seiring kerusakan dan kebobrokan moral yang semakin menjadi,serangan musuh pun datang bertubi-tubi. Dimulai dari serangan bangsa Mesir, Lalu yang paling dahsyat adalah serangan dari bangsa Assiria dan Babilonia. Dalam muqadimah Kitab raja-raja Kedua disebutkan bahwa Bangsa Assiria menyerang pada *tahun 722 SM* pada bagian utara. Pada tahun 586 SM Bangsa babilonia menghancurkan Kerajaan Israil bagian selatan. Disini kita melihat bahwa Kedua bangsa ini lah yang menjadi pelaksana ketentuan Allah.
Setelah kehancuran Israel oleh bangsa Babilonia, tidak ada lagi negara atau kerajaan Israel Yahudi yang lahir kembali kecuali baru *pada tahun 1948 M* di bumi Palestina.
Kenapa nubuta ini diberitakan sekali lagi dalam Al quran setelah berlalu hampir 1800 tahun sejak diturunkan pertama kali dalm kitab Taurat? Jawabnya : Seandainya pengkabaran kedua janji Allah itu telah terbukti sebelum kedatangan Islam, niscaya kita akan sulitmemahami hubungan Bani Israil, Musa, dan peristiwa Isra' Mi'raj nya Rosulullah. Adapun apabila janji Allah yang pertama sudah terbukti, lalu janji Allah yang kedua baru akan terjadi dimasa depan umat Islam, dan sekarang Umat Islam masih menunggu berlakunya janji Allah yang kedua itu, seperti yang difirmankan Allah dalam surat Al Isra' ayat 4-5.
Tafsir Analitik*  
Dalam bukunya, penulis membuatkan penjelasan tentang Tafsir analitiknya dari QS Al Isra' ayat 4-5.

Dan kami tetapkan kepada Bani Israil di dalam kitab (Taurat),sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di bumi (Palestina) dua kali, dan sesungguhnya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar." (QS Al Isra':4)

"Maka apabila telah tiba janji pembalasan (atas kejahatanmu) untuk kali yang pertama dari dua (janji pembalasan), Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang tangguh dan hebat serangannya, lalu mereka menjelajah (merajalela) di segala pelosok kampung-kampung. Dan (peringatan ini) adalah sebuah janji yang pasti ditunaikan." (QS Al Isra':5)

Kembali untuk memenuhi janji Terakhir.
 
Orang-orang Yahudi yang telah tercerai berai dan terlunta-lunta akhirnya kembali ke bumi yang diberkati dan berusaha mencapai kemerdekaan atau paling tidak mendapatkan pemerintahan otonomi.Hal ini di jelaskan dalam Al quran :

" Kemudian Kami kembalikan lagi kepada mu kekuasaan dari mereka (yang pernah mengalahkan kamu) dan kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak lelaki yang banyak. Serta kami jadikan kamu kaum yang ramai pasukannya." (QS AL Isra':6)
Jika kita teliti kembali dalam realitanya maka berdirinya Negara Israel berdasarkan 6 Unsur , yaitu:
1.Kekuasaan dan negara Israel Yahudi akan dikembalikan sekali lagi kepada mereka setelah berhasil mengalahkan bangsa yang dulu pernah membinasakan kerajaan mereka yang pertama. Berdirinya negara Yahudi kedua dalam sejarah belum pernah terjadi selain pada tahun 1948 M, yaitu setelah berhasil mengalahkan pasukan Arab.("... kemudian Kami kembalikan lagi kepadamu kekuasaan dari mereka yang pernah mengalahkanmu....Al Isra':6)
2.Bangsa Israel dibantu dengan dukungan harta yang melimpah ruah untuk mendirikan negara Israel. ("...dan Kami membantumu dengan harta kekayaan....").
3.Israel didukung oleh kekuatan para pemuda yang siap berperang untuk mendirikan negara.Terbukti dengan ambisi mereka untuk menghijrahkan pemuda-pemuda yahudi dari berbagai negara ke Palestina, sejak sebelum Israel ada hingga hari ini. ("...dan anak-anak lelaki yang banyak....")
4. Ketika perang Arab- Israel terjadi,jumlah tentara Yahudi lebih banyak daripada tentara musuhnya (negara Arab). Faktanya pada tahun 1948 jumlah tentara Israel 3x lebih banyak dari tentara Arab.
5.Orang-orang Yahudi berkumpul kembali setelah lama terpecah belah ke seluruh penjuru bumi.
6. Ketika Itu orang-orang Yahudi sudah berasal dar bermacam-macam suku. Adapun kini mereka berasal dari 70 bangsa.("Maka apabila telah datang janji hukuman yang terakhir, Kami akan mendatangkan kalian dalam keadaan bercampur baur....",Al Isra':104)
 
BAGIAN KEDUA :  

Penjelasan Matematik Terhadap Nubuat Al Quran  
Dalam sebuah makalah yang dibuat oleh Syaikh Muhammad Ahmad Ar-Rasyid -- tentang Tata Dunia Baru -- diceritakan tentang perkara berikut :
Sewaktu negara Israel berdiri dan diproklamirkan tahun 1948, seorang perempuan tua Yahudi masuk ke rumah ibu Muhammad Ar-Rasyid dalam keadaan menangis. Ketika ditanya kenapa dia menangis padahal orang-orang Yahudi sedang bergembira, dia menjawab

"Sesungguhnya berdirinya negara Yahudi ini menjadi sebab mereka akan dibinasakan.Menurut perempuan tua itu bahwa negara Yahudi yang baru berdiri itu hanya akan berumur selama *76 tahun. Menurut Muhammad Ar-Rasyid perkara ini ada kaitannya dengan putaran komet Heli yang punya hubungan erat dengan kepercayaan Yahudi"

*Angka 19 dan Nubuat Kehancuran Israel*  
1. Berdasarkan kabar perempuan Yahudi tadi, negara Israel hanya berumur 76 tahun saja, yakni 19 x 4 . Katakanlah 76 tahun itu tahun Qamariyyah , karena Yahudi menggunakan hitungan bulan Qamariyyah. Tahun 1948 M bertepatan dgn tahun 1367 H, Dgn demikian jika perkiraan tadi benar berarti negara Israel akan berlangsung hingga tahun 1367 + 76 = 1443 H.
2. Setiap kalimah dalam surat Al Isra menunjukkan hitungansatu tahun karena kalimatnya yang berjumlah 1556 itu = 1556 tahun (bilangan tahun antara kehancuran kekuasaan israel pertama hingga peristiwa Isra'). Jumlah ayat surat Al Isra' sebanyak 111 = jumlah ayat dalam surat Yusuf. Dan Kesamaan ini hanya ada dalam dua surat ini saja.Apabila diteliti, surat Yusuf sebenarnya berbicara tentang ke munculan Bani Israil, sedangkan surat Bani Israil berbicara tentang akhir dari kewujudan Bani Israil di muka bumi suci yang diberkati. Setiap ayat dari surat Al Isra sering diakhiri dgn kalimah seperti : wakiilan, syakuuran, nafiiran, lafiifan...semuanya berjumlah 111. Dari jumlah itu jika dibuang beberapa kalimah yang sering diulang-ulang, maka tinggal 76 kalimah, yakni = 19 x 4. Seperti keterangan terdahulu bahwa setiap satu kalimah mewakili bilangan satu tahun. 76 TAHUN ! Ada 4 ayat dalam surat Al Isra yang terdiri dari 19 kalimah, artinya jumlah kalimahnya 19 x 4. HASILNYA SEKALI LAGI adalah 76! Seketika terlintas untuk melihat ayat ke 76 yang ternyata berbunyi :

"Dan sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Makkah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal melainkan sebentar saja.
"(Al Isra:76)
PERHATIKAN, sesudah kata qaliilan (sebentar/sedikit waktu)langsung terdapat nomor ayat yang ke 76

Penulis Buku : Dr.Bassam Nahad Jarrar

Antara Cinta dan Bencana (page 2)

Posted by Havedz Nur Duha Panengke on , under | komentar (0)



Wahai anak-anak sekalian… Bila anda mati, anda baru memandang dan mengenalku dari kanan dan kirimu, betapa aku membawa bebanmu dan membelamu dan memohonkan dirimu. Tetapi sampai kapan anda , menuhankan makhluk dan menyerahkan diri pada mereka? Anda harus mengenal, bahwa tak seorang pun sebenarnya bisa memberi manfaat dan bahaya kepadamu, apakah mereka miskin, kaya, mulia maupun hinanya mereka.

Hendaknya anda tetap teguh pada Allah Azza wa-Jalla. Jangan berserah diri pada makhluk, bergantung diri pada pekerjaanmu, upaya dan kekuatanmu. Berserah dirilah pada anugerah Allah Azza wa-Jalla dan tawakallah kepada yang memberi ketentuan pekerjaanmu dan rizkimu.

Bila anda telah melakukannya maka Allah Azza wa-Jalla memberlakukan dirimu bersamaNya, dan menampakkan keajaiban kekuasaan dan takdirNya, dan mewushulkan hatimu kepadaNya, lalu Dia mengingatkanmu setelah wushul itu, hari-hari yang berlalu sebagaimana ahli syurga dalam syurganya, mengingat hari-hari dunia.

Bila anda kontra dengan formalitas akibat, maka anda akan bertemu Sang Penyebab. Jika anda kontra dengan naluri kebiasaan, maka kebiasaan anda akan tunduk kepadamu. Siapa yang berbakti kepadaNya, segalanya akan berbakti padanya. Siapa yang taat kepadaNya, ia akan dipatuhi. Siapa yang memuliakanNya, ia dimuliakan. Siapa yang dekat padaNya, segalanya didekatkan. Siapa yang taqadhu, ia akan naik. Siapa yang menghormatiNya, ia dihormati. Siapa yang bagus adabnya akan dekat kepadaNya. Kebagusan adab mendekatkan padamu kepadaNya, sedangkan adab buruk menjauhkan dirimu dariNya. Kebagusan adab adalah taat pada Allah sedangkan su’ul adab adalah maksiat kepadaNya.
Jangan sampai dirimu menunda untuk melihat dirimu dan muhasabah (evaluasi) pada diri
sendiri, segeralah muhasabah di dunia sebelum anda sampai ke akhirat.

Nabi saw, bersabda: “Sesungguhnya Allah - Azza wa-Jalla – malu menghitung amal hamba-hambaNya yang wara’ di dunia.” (Hr. Al-‘Ajluni)
Makanya, kalian harus menjalankan kewara’an, bila tidak, maka kehinaan akan membelenggumu. Wara’lah dalam kerjamu di dunia, jika tidak, akan kesenangan syahwatmu akan menjungkirbalikkan dirimu di dunia dan di akhirat. Dinar itu negeri neraka, dan dirham itu negeri problema, apalagi jika didapatkan melalui cara-cara yang haram. Besok di akhirat semua akan nyata apa yang saya katakana padamu. Hari ini, anda masih buta dan tuli. Nabi saw, bersabda: “Cintamu pada sesuatu akan membuatakanmu.” (Hr. Abu Dawud)
Lepaskan hatimu dari dunia, laparkan dan buanglah, sampai Allah swt, memakaikan baju dariNya, memberikan makan dan minum pada hatimu. Selamatkan lahir dan batinmu menuju pada
Nya, jangan mengaturNya. Bahkan seharusnya anda, adalah Dia bukan anda.

Jadilah dirimu, karena dunia memang negeri amal, sedangkan akhirat adalah negeri balasan, negeri anugerah dan pemberian. Itulah umumnya yang ada di hati orang-orang saleh.
Yang langka justru kalangan yang keluar dari serba duniawi, karena harapannya dan cintanya hanya kepada Allah Ta’ala, dan ia ingin bebas sebelum datangnya akhirat. Ia trekun dengan menjalankan kewajiban fardhu, dan disantaikan oleh ibadah-ibadah sunnah. Karena fardhu tidak bisa gugur oleh berbagai situasi dan posisi. Karena fardhu adalah milik individu-individu dari para hamba Allah Ta’ala, dan sungguh langka yang melakukan seperti itu.

Anak-anak sekalian… Zuhudlah dan berpalinglah dari kecintaan dunia, anda bisa ringan bebanmu. Bila anda dapatkan bagian dari dunia, pasti akan diberikan padamu, dan bagian dating dalam kondisi anda mulia dan bertanggungjawab.

Anda jangan makan dengan nafsu dan hawa nafsumu, karena bisa menjadi hijab bagi hatimu dari Tuhanmu Azza wa-Jalla. Orang yang beriman tidak makan untuk nafsunya dan dengan nafsunya, tidak berbaur dengan hawa nafsunya, tetapi berkonsumsi demi kekuatan untuk taat kepada Allah Azza wa-Jalla. Ia makan menurut keputuhan langkah lahiriyahnya ke hadapan Allah Azza wa-Jalla. Ia makan karena kepentingan syar’y, bukan hawa nafsunya.

Sedangkan seorang wali, makan karena diperintah makan oleh Allah Azza wa-Jalla, sedangkan wali badal, sebagai menterinya Quthub makan karena digerakkan Allah Azza wa-Jalla. Adapun sang Quthub, makan dan bekerja, sebagaimana makannya Nabi saw, dan kinerjanya Nabi saw.

Bagaimana tidak demikian? Karena ia adalah pelayan, pengganti dan khalifahnya Nabi saw bagi ummatnya? Sang Quthub adalah khalifar Rasulullah saw, sekaligus juga khalifahnya Allah Azza wa-Jalla. Dialah khalifah batin, sedangkan para pemimpin muslim terdahulu adalah khalifah dzahir, dimana seseorang tidak boleh meninggalkan kepatuhan perintahnya.

Dikatakan, pemimpin muslim yang benar-benar adil, adalah quthub zamannya. Jangan meremehkan , karena ia menjaga kemanan dzohirmu. Sedangkan Quthub hakiki adalah yang menjaga perilaku batinmu.
Tak seorang pun diantara kalian, kecuali esok di hari kiamat akan disertai malaikat yang diberi tugas di dunia mencatat kebaikan dan keburukan amal seseorang, dan masing-masing membawa 99 catatan, dan masing-masing catatan itu panjangnya sejauh mata memandang yang di dalamnya ada catatan kebaikan dan keburukan, dan segala hal yang muncul dari tindakannya itu.

Seseorang diharuskan membaca semuanya, lalu mereka membacanya, walau di dunia tidak bagus amalnya, dan tidak terbaca, maka tetap tercatat, karena dunia adalah negeri hikmah dan akhirat adalah negeri qudrot.

Dunia butuh perangkat sebab akibat, dan akhirat tidak butuh itu semua. Manakala seseorang mengingkarinya, anggota badannya bicara. Ia berkata sesuai dengan tindak tanduknya di dunia secara total. Kalian benar-benar diciptakan untuk perkara yang besar dan anda tidak punya kabar baik. Allah Azza wa-Jalla berfirman: “Apakah kalian menyangka, bahwa sesungguhnya Kami ciptakan kalian sia-sia, lalu kalian tidak maqu kembali kepada Kami?” (Al-Mu’minun, 115).